"Waittt.....!" teriaknya keras membuat seisi kamar berantakan seperti kapal pecah.
"Ada apa kok teriak-teriak, bikin telinga sakit tahu," bentakku sambil terus menatap setumpuk buku untuk calon distributor iqro.
"Benar nih hatiku tidak sakit. Jeng, dia udah keterlaluan deh sama kamu. Kurang apa sih baiknya kamu, kok dia bisa berbuat seenaknya sendiri. aduhhh... jeng kok diam saja sih. jawab dong," celotehnya sewot.
Kutatap seisi kamarku yang berantakan karena seprei yang baru aku cuci belum dipasang. kusandarkan kepalaku didinding sambil menatap langit-langit kamar. anganku kembali saat bertemu dengannya, yah saat dia ungkapkan niat hatinya. Salahkah aku mencoba menerima hatinya hadir dalam kehidupanku? Oh, tidak... aku tidak boleh menjadikan ini semua sebuah beban bagi hidupku.
"Aku tidak sakit hati atau membencinya. Apapun yang dilakukan kalau dapat membuatnya bahagia dan puas, aku iklas.
"Tapi jeng, kamu harus bersikap tegas terhadapnya. kamu bukan boneka yang seenaknya sendiri dipermainkan. dan....
"Cukup...! Aku iklas. ijinkan aku tenang dalam kehidupanku sendiri. biarkan aku sendiri menatap kehidupan, dan aku ingin tenang dalam khayalan mimpi malam.
"Sungguh aku sangat salut dengan dirimu. banyak orang yang menyakiti hatimu, tapi kau dengan mudah memaafkannya. jangan kwatir aku akan selalu menyanyangimu, menghiburmu, dan selalu setia menemani jalan langkah imaginasimu pergi," hiburnya sambil menebarkan senyum cerah tatapan sinarnya yang terang.
"Renungkan dalam Yunus 107 yang berbunyi "Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikkan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-NYa dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"
"Iya aku mengerti sekarang. OK aku dukung dengan sikapmu sekarang tapi aku mohon jangan ijinkan ada orang lain menyakiti hatimu. Aku bilang begini bukan berarti bosan menerima curhatmu, tapi aku ikut sedih. seandainya aku dapat berwujud dihadapanmu, mungkin aku akan menikahimu dan membahagiakan kamu dan putri....
"Whatt...! apa aku tidak salah dengar. kamu akan menikahiku? emang bisa? tidak... tidak mungkin bisa dan mustahil kalau kamu sampai bisa menikahiku.
"He he he aku tahu. tapi aku bener-bener ingin selalu bersamamu sampai kapanpun. aku ingin selalu menemanimu dalam sepinya langkahmu. Dan aku sangat ingin memba......
"Cukupp..! cukup jangan kau katakan apa-apa lagi padaku. sampai kapanpun kau tidak akan bisa menikahiku. ingat, sampai kiamatpu kau tidak akan bisa menikahi aku. karena kau hanya sebuah laptopppppppp!!!!!