Saat aku menulis ini, juga lagi perSama dia. Dia yang selama ini mengisi hari-hariku. aku suka menggodanya, habis dia bilang aku cewek yang rame meskipun aku suka bikin rame... tapi dia ada rasa kangen dengan keramaeanku.. he he he iihhhh aku jadi GR nih...
Dia memberi sesuatu yang sangat aku perlukan yaitu buku jurnalistik, dan akan ngopi dari perpustakaan kampusnya. bahagia rasanya disayang oleh orang yang dekat di hati. udah ah... jangan ngomongin tentang hati... bikin ingin cepat pulang aja.
hampir setiap hari kita bertemu di dunia maya. banyak yang kita bicarakan, mulai diskusi tentang kepenulisan, usaha, dan keadaan negara yang semakin semrawut oleh bencana dan saling banting merebut kekuasaan.
kota besar semakin kejam. sedangkan orang desa semakin terjepit dengan harga pangan yang naik setinggi langit. sedangkan para pemuda yang seharusnya jadi tombak senjata memajukan tanah air pada lari terbirit-birit kenegara orang hanya karena dikejar dengan kebutuhan hidup yang semakin mahal.
Hmmm.... dia pamit sholat ashar. dia baru saja menceritakan mahasiswa teater lagi mendiklat mahasiswa baru, dengan cara menggembleng mental yaitu dandan ala badut trus dipamerkan dimuka umum. aku jadi ingat saat pertama kali masuk di ummer madiun.
saat itu, aku disuruh dandan menyamai suminten edan, bahkan disuruh teriak-teriak memanggil nama seorang laki-laki mahasiswa paling gantheng...wwuuiiihh.... pokoknya seru deh... bila membayangkan kala pertama masuk mahasiswa.
Tapi sayang, aku tidak sampai selesei. hanya sampai semester pertama langsung keluar. aku lebih mencintai dengan petualanganku... aku lebih suka belajar dikeadaan alam atau keadaan kota besar. dengan ilmu yang nyata aku lebih cepat mendapat kedewasaan dan wawasan yang banyak.
Tidak makan berhari-hari, naik satu truk dengan sapi, bahkan tidur di gerbong kereta api itu hal yang biasa bagiku. hanya satu yang belum terwujud, yaitu tidur bersama dengan orang-orang kumuh. aku ingin tidur dan makan bersamanya, berbagi cerita tentang getir pahitnya kehidupan kota.
entah kapan kesampaian. dan keingianku yang terakhir ingin membangun rumah di puncak. disitu aku akan menghabiskan masa tua, bersama alam yang masih bersih belum tersentuh oleh kecanggihan alat teknologi. dan aku akan selalu menikmati sejuknya udara bersih, bernyanyi bersama burung-burung yang beterbangan kesana-kemari dengan punuh suka cita.
aku akan selalu memandang hijuanya daun, lalu menghirup bau wanginya bunga yang mekar dari peraduan tidur malamnya tuk menyambut sang mentari.
yah, hanya itu impian yang aku inginkan membangun rumah dipuncak dengan ala kerajinan tanah air, dengan gaya banguan yang alami..... hhmm... sebuah cita-cita sederhana tapi membawa kedamaian hati dan jiwa.
semoga terkabul... dengan berdoa kepadaNya dan tetap semangat untuk berusaha dengan cara bekerja keras InsyAllah akan terwujud apa yang ada dalam impian.... amien.