wana's posts with tag: jam kejujuran 2

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag jam kejujuran 2
Blog EntryJAM KEJUJURAN 2May 25, '07 12:36 AM
for everyone

JAM KEJUJURAN 2

 

By : Niswana ilma

 

Cahaya matahari tanpak silau, panasnya membakar kulit. Terlihat tanaman didepan rumah tampak layu daunnya. Aku sendiri enggan keluar rumah tidak ingin kepalaku pusing karena kepanasan. Aku lihat pintu rumah tetangga kanan kiri maupun depan rumah tertutup rapat, mungkin asyik melihat acara televisi sambil minum es kelapa muda. Aku sendiri entah sudah minum air es berapa gelas sambil membaca buku novel ketika cinta bertasbih karya Bapak Habiburrahman.

Dirumah sendiri, semua pada keluar dengan kepentingan masing-masing. Menjemukan. Bulek sedang menghadiri arisan dikantor PLN dimana Palek bekerja. Sedangkan kedua adik keponakanku pergi entah kemana. Aku sendiri tidak ada teman diajak ngobrol. Biasanya Akang Dhanis menemaniku ngobrol lewat internet, tapi hari ini dia tidak online. Semenjak dia tidak datang saat kita janjian, sepertinya dia menghindar dariku padahal aku tidak marah padanya.

Biasanya Bulek yang setia menemani aku ngobrol. Semenjak Ayahku meninggal dua bulan lalu, aku tinggal bersama Bulek dan Palek. Mereka seperti orang tuaku sendiri, makhlum Bulek sudah tidak bisa punya anak lagi sedangkan Palek adik kandung ayanhku ingin punya anak perempuan. Makanya sejak kecil aku sangat dekat dengan mereka karena aku sering dititipkan padanya bila Ayahku pergi lama.

Walaupun Bulek bukan yang melahirkan aku, tetapi dia menyayangiku seperti anak kandung sendiri. Sedangkan Ibuku entah dimana sekarang. Aku hanya berdoa semoga Allah melindunginya, semenjak perpisahan dengan Ayahku, aku tidak pernah bertemu lagi. Terakhir aku mendapatkan khabar dari Ibu Paulus tetangga dekat Palek Sugik adik kandung Ibuku bahwa Ibuku pergi ke Ambon mencari anaknya, anak dari suamin pertama. Memang saat Ibuku menikah dengan Ayahku sudah mempunyai anak tiga sedangkan suami pertamanya sudah meninggal karena kecelakaan. Cerita ini aku dengar dari adik iparnya Ibuku yang dari Kediri.

”Ting tonggg...! suara bel pintu berbunyi, aku segera membukanya.

”Assalamu’alaikum. Mbak ada kiriman bunga,” kata laki-laki itu.

”Walaikum salam. Oh, makasih pak,” jawabku sambil aku menerima rangakaian bunga dan sepucuk surat dari laki-laki tua itu.

Hmm.. dari siapa ya. Suratnya tidak ada keterangan pengingirimnya, aneh sekali,” gumamku dalam hati.

Setelah laki-laki itu pergi lalu aku tutup kembali pintu pagar dan masuk kedalam rumah. Dengan tidak sabar aku buka amplop  berwarna merah jambu. Aku lirik nama pengirim dipojok lembaran kertas paling bawah. Tetap tidak tertulis nama pengirimnya, tetapi nama menerima jelas namaku yang tertulis.

”Aneh sekali. Kenapa harus merahasiakan namanya, kalau memang tujuannya baik.” kataku lirih.

Suratnya-pun juga tidak ada pesan apa-apa selain bait-bait puisi tertulis dalamnya. Sepertinya laki-laki itu suka puisi, tapi aku merasa tidak punya teman suka puisi kecuali Akang Dhanis. Mungkin dia yang mengirim bunga ini, lalu kenapa dia tidak mau menuliskan namanya. Aku sulit sekali memahami sikapnya selama kita dekat. Sudahlah, aku tidak mau pusing soal itu. Aku buka kembali lembaran kertas kertas itu.

Menjumpai : Dik Awaningrum

Di peraduan singgasana

 

Ingin ku jabat tanganmu,

Tapi tanganku berdebu.

Ingin ku dendangkan sebuah guridam,

Tapi lidahku kelu.

Ingin ku nyanyikan lagu,

Tapi suaraku parau.

Ingin ku mainkan sandiwara,

Tapi aku buta lakon.

Ingin kulukis panorama hijau,

Tapi aku buta warna

Ingin ku persembahkan senyuman,

Tapi bibirku sumbing.

Ingin ku bercerita tentang makna,

Tapi aku sendiri hampa.

Ingin ku tunjukkan arah mata angin,

Aku sendiri tak tahu penjuru.

 

Terima kasih Adik Awaningrum mau menyempatkan  membaca dan mengahayatinya puisinya.

 

Aku baca puisi itu dengan dada berdetak kencang, air beningpun meleleh dari telaga mataku. Entah kenapa. Padahal aku sendiri kurang bisa mengartikan isi puisi tapi saat ini seolah hatiku terbawa oleh bait-bait puisi itu. Aku sangat merasakan kalau isi puisi itu sebagai ganti parasaannya. Aku sendiri tidak bisa menahan gejolak perasaan sedih yang menghimpit hatiku setelah mambaca puisinya. Kini aku harus kecewa lagi, walaupun aku belum jelas betul alasannya kenapa puisi itu dikirim padaku.

Aku tidak kuat menahan sesak dadaku. Aku yakin puisi ini ada sangkut pautnya dengan hubunganku dengannya. Aku tidak mengerti kenapa alasanya dia mempermainkan perasaanku. Tumpahlah tangisku karena tidak bisa menahan kesedihan kurasakan. Kini aku mengerti kenapa dia menghindar dariku akhir-akhir ini. Tetapi kenapa dia tidak mau bertemu langsung padaku. Telepon genggamku bergetar segera aku ambil dari dalam saku bajuku. Aku lihat dilayar monitor tanpa ada nomer penelepon.

”Hallo, Assalamu’alaikum,” sapaku tegas.

”Walaikum salam. Awa, apakah kamu sudah menerima rangkaian bunga dan amplop kecil,” suara dari seberang. Suara sangat aku kenal.

”Sudah, terima kasih banyak atas semuanya. Tetapi....

”Husss! Awa, aku minta pahami dulu puisi itu lalu sholatlah Istikaroh supaya kamu dapat petunjuk dariNya. Apakah aku baik menjadi teman kamu atau tidak. Terima kasih sebelumnya, maafkan aku sementara aku belum bisa online dulu. Wasalam.

”Klikkk! Tut..tut..tut....

”Iiihhh! Sebel aku. Kenapa dia tidak mau kasih aku kesempatan tanya, sedangkan aku tidak mempunyai nomer telepon dia,” kataku lirih.

Aku yakin suatu saat nanti bisa mengorek keterangan langsung apa maksudnya selama ini. Selain itu kenapa dia menyuruhku sholat istikaroh segala, kalau memang dia orang baik-baik. Sungguh orang aneh dia itu, baru sekarang aku bertemu orang semacam dia. Tetapi bathinku mengatakan kalau dia sebenarnya orang baik-baik. Sudahlah aku tidak harus memikirkan dia saja, masih banyak yang harus aku pikirkan.

Hari ini, hari yang kedua buat catatan buku diaryku. Bunga itu indah sekali, bunga mawar yang masih segar. Aku akan taruh di vas bunga berisi air biar tidak layu, lalu aku taruh dalam kamarku. Hmm.. sepertinya aku lagi jatuh cinta, tapi entahlah pada siapa. Mungkinkah pada Akang Dhanis? Pertanyaan sangat  konyol sekali. Bayanganku kembali pada kejadian minggu kemarin. Saat hujan deras mengguyur kota madiun, aku menantinya di warung pojok.

Tepat pukul tujuh malam dia akan datang, ternyata dia tidak datang. Tetapi anehnya dia tahu pesananku pada pelayan di warung itu. Semangkok iga sup sapi dan orange juisce.  Mungkinkah ada hubungannya Akang Dhanis dengan warung itu. Seingatku selama aku ngobrol dengannya lewat chatting dia sering kali menceritakan tentang suasana warung dan koki yang bernama Ibenk. Kadang dia menyebutkan macam-macam menu masakan, bahkan bumbu-bumbunya dan cara memasaknya dia hafal sekali.

Kini aku yakin, pasti Akang Dhanis ada hubungannya dengan warung pojok itu. Hmm.. aku punya ide sekarang. Alangkah baiknya aku menjadi detektif untuk menyelidiki siapa itu Akang Dhanis. Dengan diam-diam aku akan datang diwarung itu untuk bertanya pada pelayan yang ada. Aku yakin pelayan itu sudah lupa padaku, atau mungkin aku akan mengajak adik keponakanku saja. Ternyata otakku masih bisa diajak kerja sama dengan baik. Wuiiiiihhh... aku akan jadi detektif misterius.

 

 

 

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help